Ketika volume transaksi melonjak atau workload AI semakin berat, server di dalam high-density rack harus memproses lebih banyak data dalam waktu bersamaan. Heat load pun meningkat cepat di ruang yang padat. Dalam situasi ini, precision cooling data center menyesuaikan kapasitas dan airflow dengan beban aktual, sehingga udara dingin diarahkan ke rack yang paling membutuhkan tanpa mendinginkan seluruh ruangan secara berlebihan.
Namun, suhu ruangan yang terlihat aman belum tentu mencerminkan kondisi pada setiap rack. Jika pasokan airflow tertinggal dari kenaikan heat load, udara panas dapat kembali ke server inlet dan membentuk hotspot. Menjalankan sistem cooling pada kapasitas maksimum sepanjang waktu memang dapat meredam kenaikan suhu, tetapi energi akan lebih mudah terbuang dan nilai Power Usage Effectiveness atau PUE ikut meningkat.
Lantas, bagaimana precision cooling menjaga high-density rack tetap stabil sekaligus mengendalikan penggunaan energi? Temukan jawabannya dalam pembahasan berikut.
Apa yang Terjadi Saat High-Density Rack Terlalu Panas?
High-density rack memusatkan lebih banyak processor, storage, dan network device dalam area yang terbatas. Ketika volume airflow tidak sebanding dengan heat load, udara panas dapat kembali ke sisi depan rack dan menaikkan suhu pada server inlet. Kondisi ini membuat sebagian perangkat menerima udara yang terlalu hangat, sementara sensor ruangan belum tentu menangkap perubahan tersebut secara akurat.
Begitu suhu komponen melewati batas aman, processor dapat mengaktifkan thermal throttling dengan menurunkan clock speed untuk mengurangi panas. Performa pun ikut melambat. Jika kondisi ini terus berulang, fan perangkat harus bekerja lebih keras, konsumsi energi meningkat, dan sistem dapat mengalami shutdown. Tekanan termal dalam jangka panjang juga dapat mempercepat degradasi komponen dan meningkatkan risiko gangguan operasional.
Bagaimana Menjaga Suhu dan Kelembapan di Area Raised Floor?
Keberadaan raised floor menyediakan jalur untuk menyalurkan udara dingin menuju server, tetapi hasilnya tetap bergantung pada pengaturan seluruh jalur udara. Kabel yang terlalu padat, kebocoran, tekanan yang tidak seimbang, atau posisi ubin berlubang yang kurang tepat dapat membuat udara dingin berhenti sebelum mencapai rack yang membutuhkannya.
Supaya suhu dan kelembapan tetap stabil, pengelola data center dapat memusatkan perhatian pada tiga langkah berikut.
Pantau Kondisi di Titik yang Paling Relevan
Suhu rata-rata ruangan belum tentu menggambarkan kondisi yang diterima setiap server. Pemantauan perlu dilakukan lebih dekat ke server inlet, supply air, atau return air agar perubahan suhu dapat terdeteksi lebih cepat. Kelembapan juga perlu dijaga dalam rentang yang sesuai karena udara terlalu lembap dapat memicu kondensasi, sedangkan udara terlalu kering meningkatkan risiko electrostatic discharge atau ESD.
Salurkan Udara Dingin melalui Downflow
Pada data center dengan raised floor, konfigurasi downflow mengarahkan udara dingin ke ruang di bawah lantai. Udara kemudian keluar melalui ubin berlubang menuju cold aisle dan masuk ke sisi depan server. Posisi ubin, tekanan udara, dan jalur kabel perlu ditata agar pasokan udara tetap merata hingga ke rack dengan heat load tertinggi.
Pilih Upflow untuk Distribusi Udara dari Atas
Konfigurasi upflow mengalirkan udara dingin ke atas melalui ruangan, ceiling, atau ducting. Pendekatan ini dapat digunakan ketika fasilitas tidak menjadikan raised floor sebagai jalur distribusi utama. Pilihan antara upflow dan downflow perlu mengikuti tata letak ruangan, posisi rack, arah udara balik, dan kebutuhan pendinginan di setiap area.
STULZ CyberAir 3PRO DX Menyesuaikan Cooling dengan Heat Load
STULZ CyberAir 3PRO DX menghadirkan kapasitas pendinginan tinggi dalam footprint yang minimal. Solusi ini tersedia dalam lima sistem pendinginan dan enam pilihan ukuran dengan kapasitas mulai dari 22 hingga 150 kW. Ukuran, kapasitas, arah airflow, dan sistem kontrolnya dapat disesuaikan dengan desain serta kebutuhan setiap data center, termasuk melalui pilihan upflow dan downflow.
Efisiensinya didukung teknologi EC Fan dan EC Compressor yang dapat menyesuaikan kinerja terhadap perubahan heat load. Pengontrolan suhu juga dapat mengacu pada supply air, return air, udara ruangan, atau server inlet. Pada konfigurasi yang mendukungnya, opsi Free Cooling membantu mengurangi waktu kerja mechanical cooling dengan memanfaatkan kondisi lingkungan saat memungkinkan. Kombinasi ini menjaga pendinginan tetap presisi sekaligus membuka peluang penghematan energi dan biaya operasional.
Baca Juga: 5 Alasan AC Presisi Menjadi Standar Pendingin Server dan Data Center Modern
Tekan Biaya Operasional Data Center Bersama XDC Indonesia
Sebagai bagian dari CTI Group, XDC Indonesia membantu perusahaan menyiapkan sistem precision cooling data center yang lebih efisien dan sesuai dengan kebutuhan fasilitas. Melalui STULZ CyberAir 3PRO DX, XDC mendukung pengelolaan suhu, kelembapan, dan airflow pada berbagai desain data center.
Tim XDC dapat membantu mulai dari menghitung heat load, menentukan kapasitas, dan memilih konfigurasi upflow atau downflow hingga merencanakan integrasi serta dukungan teknis. Setiap implementasi dapat disesuaikan dengan luas ruangan, kepadatan rack, desain raised floor, dan target efisiensi energi perusahaan.
Hubungi XDC Indonesia untuk mendiskusikan kebutuhan precision cooling data center dan konfigurasi STULZ CyberAir 3PRO DX yang tepat bagi fasilitas Anda.
Author: Danurdhara Suluh Prasasta
CTI Group Content Writer
